Tahun 2022 Pemkot Kupang Adakan 30.000 Buku

oleh -36 views
Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore pada acara bedah buku bertajuk ‘Melukis Kata Menulis Asa’ hasil karya guru-guru SD-SMP di Kota Kupang

KUPANG, BERANDAWARGA.COM— Guna mendorong budaya literasi, pemerintah telah mengajukan anggaran untuk pengadaan 30.000 unit buku pad atahun 2022 mendatang untuk mendapat persetujuan DPRD.
Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore pada acara bedah buku bertajuk ‘Melukis Kata Menulis Asa’ hasil karya guru-guru SD-SMP di Kota Kupang yang diselenggarakan atas kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang dengan Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Provinsi NTT dan Media Pendidikan Cakrawala NTT yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Jumat pekan lalu mengapresiasi kerja keras luar biasa para guru yang sudah berinisiatif menuangkan pikiran melalui tulisan tentang potret Kota Kupang khususnya di dunia pendidikan.
“Budaya literasi di Kota Kupang masih sangat terbatas dan perlu digalakkan. Mudah-mudahan tulisan bapak/ibu guru menjadi langkah awal menjadikan Kota Kupang sebagai kota literasi,” kata Jefri.
Menurutnya, pendidikan dan literasi merupakan niscaya yang harus dikerjakan serius di Kota Kupang, dan keberlangsungan dunia pendidikan, khususnya mempersiapkan masa depan anak-anak di Kota Kupang ada pada pundak bapak/ibu guru.
“Kita berharap para pelajar di Kota Kupang memiliki minat baca tinggi. Untuk itu kita rangsang dengan pengadaan buku-buku gratis, sekaligus mendorong budaya menulis agar lahir penulis-penulis di Kota Kupang,” papar Jefri.
Karena itu ia menegaskan agar lingkaran setan malas membaca harus diberangus, salah satunya dengan memberikan akses buku-buku yang memadai.
“Kita perlu memiliki banyak ruang atau tempat yang kondusif untuk membaca, dorong anak-anak membaca paling tidak 30 menit sehari.Hal ini akan menjadi kebiasaan dan menambah wawasan berpikir generasi muda kita,” jelas Jefri.
Ia kembali mengapresiasi terobosan yang dilakukan BMPS NTT melatih guru-guru Kota Kupang untuk menulis buku Potret Kota Kupang Dalam Catatan Para Pendidik Generasi. Karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat, tidak saja guru tapi pemerintah maupun kalangan swasta di Kota Kupang.
Lebih lanjut ia menjelaskan, membangun Kota Kupang merupakan sinergitas menyeluruh, berbagai bantuan pendidikan, seperti bantuan pakaian seragam, peningkatan infrastruktur sekolah merupakan perjuangan gigih pemerintah yang didukung DPRD.
“Kami sering mengajak kita berefleksi bersama tentang bantuan pakaian seragam. Banyak masyarakat yang berjuang ketika tahun ajaran baru dimulai, dimana banyak dari masyarakat yang kesulitan ketika harus membeli pakaian seragam, tas dan buku untuk anak-anak mereka. Puji Tuhan, pemerintah dapat menganggarkannya untuk meringankan beban masyarakat,” papar Jefri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Dumuliahi Djami mengatakan, semua sekolah mempunyai kesempatan untuk mengembangkan potensi, baik guru maupun peserta didik. Potensi tersebut perlu diasah.
Dirinya setuju jika kegiatan ini dilaksanakan di tahun-tahun mendatang agar apa yang menjadi cita-cita wali kota menjadikan Kupang sebagai kota literasi dapat terwujud.
“Kita punya 200 lebih sekolah. Kalau setiap tahun banyak yang menulis, kita bisa hasilkan ratusan karya setiap tahun,” kata Dumul.
Wakil Ketua BMPS NTT, Romo Kornelis Usboko menerangkan, sejak dipilih dan dilantik pada tahun 2016, pengurus BMPS terus memberi kontribusi membangun pendidikan di NTT dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, mulai dari cerdas cermat, lomba pidato, debat Bahasa Inggris, pelatihan penulisan karya ilmiah, penulisan buku dan pentas seni. BMPS juga merangkul sekolah-sekolah negeri untuk berkolaborasi.
Alasan BMPS menyelenggarakan berbagai kegiatan agar membiasakan pendidik dan peserta didik untuk belajar dalam situasi apapun, terutama ditengah pandemi, meskipun pandemi merubah banyak tatanan hidup dan kebiasaan manusia, terutama aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Menurutnya, acara bedah buku ini merupakan wadah yang dapat mendorong para guru untuk rajin menulis dan menghasilkan karya.
“Poinnya adalah kami memberikan contoh dimulai dari para pendidik, agar menjadi transformasi ilmu dan pengalaman yang akan diterapkan kepada peserta didik di sekolah,” kata Romo Kornelis. (berandawarga.com//**/red)

Baca Juga:  Dua Politisi PDI Perjuangan Bantu Korban Seroja Kota Kupang